Baru saja saya mau menulis tentang kau yang ingat untuk mengirimi materi. Saya jadi menyesal tidak membagi catatan kemarin. Harusnya saya juga seperhatian itu.
Now, its my turn...
Saat saya punya anak nanti, saya akan membuatkan sebuah akun email.
Setiap momen dalam pertumbuhannya akan saya dokumentasikan dan saya kirimkan ke emailnya.
Pada ulang tahunnya yang ke 17 atau mungkin yang lain, akan saya berikan kata sandinya.
Saya tidak betah sekali.
Dari CCTV dia mengirim orang untuk konformasi.
Saya merasa dicurigai.
Apa dia mengira saya berusaha menyelundupkan orang untuk menginap?
Ekspresinya membuat saya tidak nyaman sekali.
Masalahnya ini juga bukan untuk kepentingan saya pribadi.
Pada akhirnya, ini justru untuk kelangsungan hidupnya sendiri.
Ingin pergi tapi berat hati.
Sisi diri saya yang lain memberati keputusan pergi.
Tapi Anda sungguh mengesalkan sekali.
Terkadang kok saya merasa orang-orang ini mengambil terlalu banyak. Tapi ya saya tidak bisa bilang apa-apa. Tidak berhak bilang apa-apa. Mereka orang pintar, pasti punya tendensi masing-masing. Tendensi yang membuat mereka merasa berhak atas semua hal yang mereka ambil.
Saya tau ini tidak akan mudah.
Tapi saya ini juga keras kepala.
Sekali ingin 'ini' ya saya harus dapatkan 'ini'
Capek
Ingin sekali ada orang yang menyemangati.
Menemani mengerjakan tugas-tugas.
Mengatakan, 'tidak apa-apa, kamu bisa kok mengerjakannya sebaik mereka, kamu bisa kok seaktif mereka, kamu bisa mengimbangi mereka, semangattt!'
Saya berpikir saya ini keburukan saya masih di ambang batas normal orang-orang. Iya, orang-orang yang ada di sekitar saya dulu dan saat ini.
Bersama kalian saya merasa buruk sekali. Sepertinya saya salah pergaulan. Salah lingkungan. Salah pertemanan. Harusnya saya berada di lingkungan belajar seperti ini sejak awal.
Saya orang yang sering berspekulasi sendiri. Saya heran kenapa Anda membuat banyak sekali typo. Anda bilang Anda mengetik ulang semuanya. Kenapa tidak di copy paste saja semuanya? Apa Anda menulis ulang semuanya? Merangkum semua lalu menulis ulqng dengan bahasa Anda sendiri? Wah, Anda benar-benar berbeda.
Tunggu, apa kalian semua juga begitu?
Saya malu sekali rasanya.
Aku berada di lorong sebuah rumah sakit
Aku berjalan melewati lorong
Pelan, tetapi otakku berkata aku harus cepat
Bagian diriku yang lain mengatakan untuk tidak menarik perhatian
Padahal tak ada orang
Lorong ini sepi.
Sampailah aku pada meja dengan telepon berwarna putih usang
Aku mencoba menelepon keluar
Entah siapa, rasanya aku ingin minta pertolongan
Lalu seorang suster datang, bertanya dia bisa bantu apa?
Kubilang tidak ada
Lalu kusadar angka di telepon itu tidak lengkap
Tak ada angka 8 dan 9
Saya baru sadar Anda tidak tanya pendapat saya. Tapi saya memang bukan orang yang pendapatnya perlu dipertimbangkan sih. Toh, saya selalu memberi kesan pada semua orang saya hanya memedulikan diri sendiri. Jadi, pendapat saya juga tidak penting-penting amat.
Walaupun begitu, perilaku Anda menyita perhatian saya. Saya jarang peduli apa yang orang lain lakukan. Tapi hari ini kok tiba-tiba saya jadi greget ingin berpendapat.
Kalau masalah berangkat atau tidak, pendapat saya ya sebaiknya Anda berangkat. Anda dapat kesempatan, ya harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.
Lalu apa saya menyarankan Anda untuk berangkat? Ya jelas tidak.
Tidak etis kalau Anda berangkat. Anda anak baru.
Terus Anda bertanya, adakah yang mencari Anda selama Anda tidak hadir?
Jawabnya ya tidak ada. Memangnya Anda siapa?
Saya ingin mengatakan ini semua di depan Anda, tapi mulut dan ekspresi saya itu sering terlalu jujur.
Saya sadar betul, saat saya mengatakan banyak hal, orang-orang merasa terluka. Itu sebabnya saya jarang bicara. Lagi pula lebih sering rasanya, banyak bicara itu sia-sia.
Saya berharap, ketidakmampuan saya mengatakan hal ini secara langsung tidak berdampak buruk pada hidup Anda.
Adalah hak Anda untuk menerima saya dengan segala karakter saya.
Adalah hak Anda untuk mengacuhkan saya dengan segala karakter saya.
Adalah hak Anda untuk membenci saya dengan segala karakter saya.
Saya sepenuhnya sadar, bahwa menjadi diri sendiri akan menyulitkan saya dalam banyak situasi.
Bahwa 'jadilah diri sendiri' tidak akan saya rekomendasikan pada orang yang saya pedulikan.
Beginilah cara saya mengeliminasi orang yang tidak perlu.
Ingat masa saat semua terasa mengkhianatimu.
Saya katakan, saya ingin membuat alat yang bisa membantu mereka berbuat kecurangan di kelas. Hanya supaya ide saya berbeda. Hanya supaya diskusinya memihak saya. Ternyata mereka malah menyerang saya.
Lucu sekali.
Life is like tetris. When you try to fit in, you will dissapear.
"But remember, darkness does not always equate to evil, just as light does not always bring good."
Pada dasarnya, manusia itu tidak konsisten (cognitive dissonance). Semua orang punya sisi buruk. Tapi jelas dalam banyak kondisi, akan menutupi keburukannya. Munafik.
Terlepas dari judgement atas apa yang telah ia lakukan, sayangnya hanya satu, viral.
Menurut saya dia remaja yang jujur, melakukan apapun yang dia inginkan.
Wajar, memang siapa yang tidak pernah berbuat kesalahan?
Ia masih muda.
"Let him that is without sin first cast the stone at her."
Sepuluh, dua puluh atau entah kapan, di masa yang akan datang. Saya akan mengunjungi blog ini, membaca kembali apa yang telah saya tulis. Melihat perkembangan diri saya sendiri. Dan tertawa bahagia...